PT L&B
Upah industri pakaian jadi yang sangat rendah membuat sebagian besar buruh garmen tidak memiliki tabungan pada saat krisis Covid-19 menghantam. Karena sebagian besar pemerintah di negara-negara pengekspor pakaian jadi hanya menyediakan sedikit atau bahkan tidak sama sekali tunjangan pengangguran. Satu-satunya hal yang berada di antara buruh garmen yang kehilangan pekerjaan dan kemiskinan serta merta bagi keluarganya hanyalah pesangon yang diwajibkan secara hukum dan sudah dijadwalkan untuk diterima oleh sebagian besar buruh garmen pada saat pemutusan hubungan kerja.
Penelitian yang dilakukan oleh Worker Rights Consortium (WRC) mengungkap bahwa banyak buruh garmen yang dipecat selama pandemi telah ditolak sebagian atau seluruh haknya atas kompensasi penting ini, yang merupakan sebuah pelanggaran hukum dan pengingkaran kewajiban pemenuhan hak-hak buruh yang dilakukan oleh pemilik merk dan pengecer yang pakaiannya dijahit oleh buruh-buruh ini.
PT L&B adalah salah satu dari 31 pabrik garmen ekspor yang diidentifikasi dalam laporan WRC, “Dipecat, Kemudian Dirampok: Keterlibatan Merk Fesyen dalam Pencurian Upah Selama Covid-19”, yang masih berutang kepada para buruh ini kompensasi terbatas waktu yang telah diamanatkan secara hukum pada bulan April 2021.
Pada bulan April 2020, PT L&B memberhentikan 100 buruhnya. Dan pada bulan April 2021, para buruh ini masih menunggu sejumlah 79.000 dolar Amerika sebagai kompensasi terutang yang telah dimandatkan secara hukum.
PT L&B yang berlokasi di Kampung Sundawenang RT. 30/RW. 12, Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia, dimiliki oleh Lee and Co., Ltd. yang berbasis di Seoul dan memiliki lebih dari 5.000 karyawan di seluruh pabrik produksinya di Vietnam, Indonesia, Filipina, dan Guatemala. Lee and Co. mencantumkan klien-kliennya di antara adalah Express, Kohl’s, Lands’ End, Macy’s, dan Madewell. Buruh-buruh PT L&B juga melaporkan bahwa mereka memproduksi untuk Gap Inc. (label Gap dan Old Navy) dan Justice (diakuisisi oleh Bluestar Alliance dari Ascena pada bulan November 2020). Gap mengatakan kepada WRC dalam surat pada Januari 2021 bahwa mereka telah memverifikasi, berdasarkan tinjauan dokumen, bahwa 123 buruh yang mengundurkan diri pada bulan April 2020 (108 di antaranya berada di akhir periode kontrak mereka) telah dibayar sesuai dengan hukum setempat. Meskipun demikian, bukti menunjukkan bahwa buruh-buruh tersebut telah dipekerjakan secara ilegal melalui beberapa kontrak jangka pendek yang berulang, dan oleh karena itu, sesuai hukum yang berlaku, memiliki hak pesangon yang sama seperti jika mereka diklasifikasikan dengan benar, yaitu sebagai karyawan tetap.
Read More:
Join our newsletter
Sign up to the WRC’s mailing list to stay updated on our work.